Kapan ya gw ditembak ce….???
pasti gw terima..kl yg nembak mirip2 luna maya atw rianti carthwright….;) I wish..
(Salah satu penggalan komentar dari seorang teman di post “ Nembak Cowok”, Oktober 2008)
Selamat Idul Fitri 14XX H (G*****N & Luna Maya)
(Saya tidak ingat kalimat persisnya dan tahun berapa, tapi ingat jelas nama pengirimnya: seorang teman berinisial G, fans berat Luna Maya)
“Cewek cantik itu, kayak siapa?”
“Luna Maya”
(pertanyaan iseng tapi serius *dengan jawaban yang bisa jadi iseng tapi serius juga*, biasa saya tanyakan pada para teman lelaki).
“Weits…ada LM tuh”, atau, “LM dateng…”
(nama canggih yang diberikan teman-teman saya untuk seseorang di tempat kerja. Entah mengapa kok LM yang dipilih, padahal tidak mirip Luna Maya lho)
Luna Maya memang fenomenal.
Mbak Luna, penggemarmu kok seabreg tenan. Bahakan The Changcuters sampe make’ namamu lho di lagu mereka yang judulnya I Love You Bibeh (biar kata mirip buaya, bagiku Luna Maya). Kalau bisa ngaku-ngaku, saya ini teman dekatmu lho, mengingat namamu sering nongol dalam percakapan-percakapan saya. Jadi pengen tau, aslinya kamu itu kayak apa sih? Selama ini cuma liat di tipi aja, terutama di acara gosip yang digosok makin sip. Luna, Luna…ckckckckck…*sambil geleng-geleng kepala*
-ulin-
No Comments »
Awalnya adalah warna-warni. Semua tentang warna-warni dalam hidupku: rasa, pengalaman, pelajaran. Ia telah merekam 55 tulisan sejak 29 November 2007, mendokumentasikan berbagai peristiwa yang memberiku makna. Di dalamnya ada ceriaku, galauku, kecewaku, sedihku, heranku, rinduku, doaku, syukurku, gembiraku. Di dalamnya ada keluargaku, sahabat-sahabatku, teman-temanku, kekasihku, rekan kerjaku, orang-orang yang kutemui di perjalanan. Saat membacanya kembali di masa kini, aku tersadar betapa kayanya aku dengan hidup biasaku yang tidak biasa ini. Aku selalu menginginkan extraordinary life, dan Tuhan (karena aku percaya padaNya) mengabulkannya untukku.
Sekarang adalah transkrip. Ia tetap akan bertutur tentang rasa, pengalaman, dan pelajaran dalam hidupku. Merekam setiap momen yang memperkaya batinku dan yang mengingatkanku untuk selalu merunduk bersyukur atas anugerah-anugerahNya.
-ulin-
2 Comments »
Masih jelas terlihat dalam ingatanku suatu hari di bulan April lalu. Jendela-jendela kaca membuat pandang lepas ke langit suram di luar sana makin lekat. Sudah sejak pagi matahari enggan bersinar, meninggalkan nyala redup terbalut awan hitam. Tangisan dari langit yang sesekali diwarnai gemuruh petir makin melengkapi sendunya siang itu. Rimbun teduh pepohonan tidak lagi mampu menyejukkan dan mendamaikan hati siapapun yang sedang berkumpul di tempat ini, di sebuah ruang kerja Dispsiau. Semua larut dalam prihatin, pilu, dan luka, setelah kabar duka itu menyeruak masuk tanpa mengetuk. Ia kami temukan dalam pesan singkat, telepon, dan berita televisi yang tak hentinya bergaung. Kecelakaan pesawat di Husein Sastranegara. Semua tewas. Siswa Paskhas. Skadron Udara 2. Bang Gede, Bang Yudho (aku kehilangan mereka, yang dari adikku Ulung kukenal mereka sebagai kakak yang baik dan pribadi yang santun; aku akan merindukan mereka, bahkan saat tangan kami belum pernah berjabat dan dan wajah kami belum pernah bertatap).
Pagi itu, di hanggar Skadron 17, aku menemui deretan peti kayu berselimut sang merah putih. Di depannya terdapat gambar wajah berpigura sebagai penanda tubuh pejuang manakah yang sedang berbaring tenang di sana. Pagi itu, aku menemui perempuan-perempuan yang meneriakkan nama orang terkasihnya dengan isak yang makin keras dan aliran air mata yang makin deras. Seorang perempuan pingsan berkali-kali. Seorang lagi tersedu di samping peti sambil menggendong buah hatinya yang baru berusia bulan. Seorang anak perempuan beranjak remaja memanggil-manggil ayahnya (aku seakan menyaksikan diriku sendiri, ketika guncangan dan suasana serupa pernah kualami lebih dari sewindu lalu di Adisucipto).
Keterkejutan itu belum sirna ketika matahari yang sama, rimbun pepohonan yang sama, dan jendela yang sama, sekali lagi ikut muram mendengar kabar duka yang membuat kami terhentak dan terhenyak dalam keprihatinan yang sama, enam minggu yang lalu. Namun kali ini beritanya datang lebih pagi. Tepat di hari Kebangkitan Nasional, 06.25 WIB. Kecelakaan pesawat tak jauh dari Iswahjudi. Ada yang selamat, sebagian besar tewas. Pesawat terbakar. Skadron Udara 31. Skadron tempat adik yang kucintai akan mengawali pengabdiannya sebagai penerbang TNI AU.
Setiap roh yang sedang pulang menuju Tuhannya itu adalah anak seseorang. Ayah atau ibu seseorang. Kakak, adik, atau kerabat seseorang. Akankah nama mereka berhenti pada data statistik yang bernama jumlah korban, yang diulang-ulang pemberitaannya di kemudian hari, tanpa punya arti lebih? Hanya berhenti menjadi sebuah data kuantitatif dalam tumpukan arsip yang pelan-pelan dilupakan, sampai suatu saat peristiwa yang serupa terjadi lagi…Begitukah? Bukankah sesuatu harusnya bisa segera dilakukan? Tidak cukupkah bayaran nyawa bertubi-tubi itu menampar wajah sebuah institusi terhormat bernama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara? Tidak cukupkah pengorbanan mereka yang tewas mengusik nurani para penguasa pembuat keputusan yang duduk nyaman di atas sana? Layakkah nyawa dikesampingkan untuk memuaskan alur bernama birokrasi yang akhirnya hanya berujung maut?
Dukaku yang dalam untuk jiwa-jiwa yang kini terbang. Doaku untukmu semua. Semoga Tuhan membiarkan jalanmu lurus tak berliku saat menuju-Nya.
-Ulin-
2 Comments »
Pesan singkat ini saya terima tadi malam. Pengirimnya adalah ia yang pernah menjadi teman diskusi terbaik saya. Ia yang pernah membuat saya merasa semakin kaya setiap hari dengan limpahan gagasan yang tiada habis. Ia yang dulu saya rindukan setiap waktu. Ia yang dulu sering membuat saya tersenyum dan tertawa. Ia yang pernah menjadi segala-galanya bagi saya. Ia yang dulu sangat saya inginkan dan butuhkan, tetapi ternyata ia lebih memilih untuk pergi. Meninggalkan saya, meninggalkan tekadnya untuk memperjuangkan saya, meninggalkan bibit-bibit harapan yang sudah telanjur tersemai dalam tempat yang tidak mudah ditembus setiap orang: hati saya.
Mudah baginya untuk melupakan ucapannya sendiri—Ulin, aku sayang kamu, sekarang dan selamanya…—semudah ia menyakiti saya lagi dan lagi, bahkan ketika perpisahan sudah menjadi milik kami. Berulang kali ia menarik saya kembali dalam hidupnya, memaksa saya melihat bagaimana ia berkembang. Menyaksikannya memiliki kekasih lagi. Menyaksikan kemesraan yang mereka tampilkan di situs-situs pertemanan. Menyaksikan bahwa kini sudah ada cincin di jari manis tangan kiri keduanya (dalam waktu dekat mungkin saya akan menerima kabar pernikahan mereka). Kisah saya dan dirinya terlukis dengan sangat bagus dalam melodi ’Kukatakan dengan Indah’-nya Peterpan1.
Pedulikah ia bagaimana perasaan saya?
I don’t think so. I guess not.
Setelah pada akhirnya saya sanggup mengucap selamat tinggal, mengapa ia masih menguji keputusan saya dengan pertanyaan, ”do U still productive in writing?”. Selamat tinggal berarti selamat tinggal. Sungguh, dia tidak berhak lagi menanyakan hidup saya, menanyakan keadaan saya, setelah bertubi-tubi hujaman paku telah ditancapkannya pada batin saya.
(Untukmu, yang pernah kuistimewakan dan membuatku merasa sangat istimewa. Aku ingin berjalan kembali untuk meraih hal-hal terbaik yang sempat terlewati. Aku ingin mengembalikan hak jiwaku—haknya untuk bahagia—yang sudah sekian lama kurenggut karena terpasung keelokanmu.)
_______
1Kukatakan dengan indah, dengan terluka, hatiku hampa. Sepertinya luka menghampirinya. Kau beri rasa yang berbeda, tapi kusalah mengartikannya. Yang kurasa cinta. Tetapi hatiku selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu. Selalu meninggikanmu…
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu. Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu. Tetapi hatiku selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu. Selalu meninggikanmu…
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi. Membuatku merasakan yang tak terjadi. Semua yang terbaik dan yang terlewati. Semua yang terhenti tanpa kuakhiri. Tetapi hatiku selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu Selalu meninggikanmu…
Kau hancurkan hatiku, tak tertahan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu. Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu. Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu. Kau terangi jiwaku, redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu…
-ulin-
2 Comments »
Prolog
Do you believe in coincidence?
Beberapa orang yang saya tanya, menjawab bahwa ya, mereka percaya.
Beberapa yang lain bilang, bahwa mereka tidak percaya kebetulan itu pernah ada.
Di salah satu blog-post teman saya, Kiki, ia menulis bahwa sesungguhnya hidup itu adalah serangkaian kebetulan-kebetulan yang tidak kebetulan(Facebook, ACCELERATING LEARNING-catatan catur wulan II 2008, 25 Desember 2008).
Hmmm…
Kalau yang ini?
Ceritanya…
November 2008
Peristiwa ini terjadi di suatu sore, ketika saya sedang menempuh Diklatsarjemen di Skadik 502 Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Kebetulan saya mendapat giliran piket Skadik bersama seorang Pasis Binpotdirga yang juga sedang belajar di Skadik 502. Pak Perwira ini alumnus AAU tahun 2001, yang berarti kisaran usianya kurang lebih sama dengan saya. Kebetulan beberapa teman sekolah saya (SD, SMP, SMA) juga alumnus AAU 2001, dan pembicaraan kami pun jadi nyambung. Kebetulan dia dinas di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, kota masa kecil saya. Duh, saya jadi rindu dengan suasana kota apel ini. Dan…coba tebak apa yang paling kebetulan? Ia tinggal di rumah yang persis sama dengan rumah yang membesarkan saya selama 5 tahun! What a coincidence! Makin jelas bayangan lantai batu di teras depan, pohon sirsak yang tumbuh di halaman belakang, berangkat sekolah berdua dengan Digna ke TK Angkasa yang terletak persis di seberang rumah kami, jalan-jalan keliling kompleks ditemani sengatan dingin dan kabut pagi, hmmm… Di antara 30 hari yang tersedia, kok ya saya piket dengan orang yang kenal dengan teman-teman saya, tinggal di kota yang menyimpan banyak kenangan manis untuk saya, dan menempati Komplek Amarta Blok I-11?
Desember 2008
Saya mendengar namanya pertama kali sekitar 5 tahun lalu. Kebetulan dia teman salah satu kerabat saya, satu angkatan di AAU. Kebetulan pula dia sahabat masa SMA teman dekat adik saya. Secara sambil lalu, saya mendapat beberapa informasi tentangnya. Saya tahu nama lengkapnya, tanggal lahirnya, panggilannya ketika SMA, dan beberapa kualitas positifnya. Kebetulan salah satu teman saya sesama PNS ternyata juga kenal dia (what a small world!) dan berbaik hati memperkenalkan kami. Oooo…ini tho, bapak yang pernah muncul dalam percakapan-percakapan di kala lampau itu. Pecahan-pecahan informasi kebetulan yang terserak sekian waktu lalu itu seperti potongan puzzle yang mulai terangkai dan menemukan bentuknya sekarang. Bapak ini kebetulan dinas di Malang (Malang lagi, nostalgia lagi), sekaligus kebetulan juga satu kantor dan satu korps dengan Pasis Binpotdirga teman piket saya dulu. Kebetulan dia lahir dan besar di Yogyakarta (saya cinta kota ini), kota yang sama tempat saya meneruskan masa kecil mengikuti kepindahan tugas ayah dari Malang. Maka, sejak seminggu sebelum tahun Masehi 2008 berakhir, hari-hari saya terasa lebih berwarna setelah mendapat teman baru yang sering membuat saya tersenyum. Kebetulan dirinya senang berwisata kuliner, dan cukup bisa membuat saya mulai tertarik belajar masak serta tergoda untuk lebih sering menjelajah tempat-tempat lezat memuaskan selera lidah (PS: U r great, Pak J).
Januari 2009
Dua Kolonel sedang berbincang akrab di sebuah ruang tunggu Dispsiau. Mereka adalah Pak Sukmo, atasan saya, dan peserta Medex yang batere tesnya baru selesai saya siapkan di ruang laboratorium CAT. Kebetulan hari itu giliran saya piket lab, tugas rutin seminggu sekali untuk melayani pemeriksaan psikologis bagi para penerbang yang sedang melaksanakan ILA/Medex. Ketika hendak mempersilakan bapak peserta memasuki ruang tes, tiba-tiba beliau berkata ramah, “Sini, sini, duduk dulu, duduk dulu. Ngobrol-ngobrol dulu sama Om. Kamu kok nggak bilang-bilang Om kalo dinas di sini?” Truly, I didn’t have any idea of who the man was. Wajah saya pasti tampak sebingung perasaan saya saat itu. Ternyata oh ternyata…beliau adalah mantan siswa ayah di Sekbang sewaktu ayah bertugas di Yogyakarta! Salah satu siswa yang paling sering ke rumah, baik untuk briefing sebelum terbang atau berkunjung karena undangan pesta kecil di rumah. Kebetulan, beliau ditempatkan di Malang setelah lulus Sekbang dan saat ini pun berdinas di sana. Hmm…kebetulankah? Di antara sekian banyak hari, kok ya Om Ismet Medex di hari yang sama saat saya piket?
Epilog
Jika ia memang ada, saya berterimakasih pada kebetulan, karena ia sangat baik pada saya. Well, seperti kata Kiki, hidup adalah kebetulan-kebetulan yang tidak kebetulan.
Saya rasa hidup sama sekali bukan kebetulan. Penciptaan saya dan semua orang di bumi ini pun bukan kebetulan. Kejadian-kejadian tertentu tampak seperti kebetulan, hanya karena kita belum memahami maknanya atau menemukan rangkaiannya saja. Saya percaya bahwa Ia tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan membiarkan kita mengalami atau mengetahui sesuatu tanpa maksud. Semuanya ada, semuanya terjadi, untuk sebuah alasan istimewa.
Akronim:
AAU = Akademi Angkatan Udara
Binpotdirga = Pembinaan Potensi Kedirgantaraan
CAT = Computerized Assisted Test (Tes Berbasis Komputer)
Diklatsarjemen = Pendidikan dan Latihan Dasar Manajemen
Dispsiau = Dinas Psikologi Angkatan Udara
ILA = Indoktrinasi Latihan Aerofisiologi
Medex = Medical Examination (Pemeriksaan Kesehatan)
Pasis = Perwira Siswa
Sekbang = Sekolah Penerbang
Skadik = Skadron Pendidikan
1 Comment »
Selama satu bulan sejak 4 November lalu, saya memasuki ruangan ini tiga kali: sebelum apel pagi, menjelang tengah hari, dan selepas sholat Maghrib. Di dalamnya terlihat deretan meja persegi panjang yang masing-masing dikelilingi 6 kursi ber-jok biru. Di atas meja yang dominan beralaskan plastik warna hijau, di depan tiap kursi, tertata rapih piring beserta sendok garpunya; sedangkan nampan lauk dan panci sayur yang tertutup tudung saji berada di tengah-tengah. Pada empat sudutnya, tersusun 6 gelas yang diletakkan menjadi 2 saf, air putih dalam teko plastik bening, nasi dalam bakul ukuran sedang, dan kerupuk dalam toples plastik bundar. Di tempat ini, di ruang makan ini, kami—107 siswa Diklatsarjemen1 dan 15 siswa Binpotdirga2—menyantap dan melahap hasil karya koki-koki Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Tidak ada lambang apapun yang wajib dihormati, berbeda dengan ruang makan siswa di Pusdikajen3. Suasana makan pun sangat santai, karena kami justru dianjurkan ngobrol dan berakrab-akrab (jangan harap keadaan ini bisa ditemukan di Pusdikajen). Kebebasan itu memberi saya keleluasaan untuk tengak-tengok kanan kiri. Pandangan saya kemudian tertumpu pada sesuatu yang menarik di salah satu bagian dinding.
Jika posisi duduk kita menghadap pintu masuk, bingkai warna emas itu dapat terlihat jelas. Jika cukup dekat dengan dinding tempatnya tergantung, apa yang terpampang di sana dapat kita tatap lekat-lekat. Latarnya yang putih terlihat kontras dengan rangkaian alfabet berwarna hitam di atasnya, membentuk rangkaian kata lalu rangkaian kalimat yang menurut saya bukan hanya bagus, namun juga mulia.
DELAPAN WAJIB TNI
1.Bersikap ramah tamah terhadap rakyat
2.Bersikap sopan santun terhadap rakyat
3.Menjunjung tinggi kehormatan wanita
4.Menjaga kehormatan diri di muka umum
5.Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya
6.Tidak sekali-kali merugikan rakyat
7.Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat
8.Menjadi contoh dan memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat
Membacanya pertama kali membuat saya berkomentar skeptis ‘Bener tuh?’ Memikirkannya setelah itu makin menguatkan keskeptisan saya. ‘Baik banget ya, TNI sama rakyat. Model sempurna, yang patut digugu dan ditiru. Menjaga kehormatan diri? Menjadi contoh dalam sikap? Tidak sekali-kali merugikan rakyat? Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat? Ah, yang bener…’ Kalau benar, seharusnya tidak ada berita bahwa ada oknum TNI yang dipukuli pihak PT. KAI karena tidak mau bayar tiket. Nah lho, satu kejadian saja ternyata sudah melanggar beberapa kewajiban TNI. Sang oknum mungkin lupa bahwa ada tanggung jawab yang besar dan konsekwensi yang harus disanggupi setelah ia dipercaya untuk mengenakan seragam TNI. Ia mungkin juga lupa, bahwa masyarakat akan melihatnya sebagai Paijo atau Tukinem yang anggota TNI, bukan Paijo atau Tukiman sebagai pribadi belaka. Duh duh… Di tengah usaha TNI untuk terus memperbaiki tubuh dan citranya, kok ya ada saja anggotanya yang nakal.
Membaca dan membacanya lagi tiap kali memasuki ruangan ini masih membuat saya…hmmm…kehabisan kata dan geleng-geleng kepala. Sebagai rakyat, saya berharap agar kalimat-kalimat mulia di atas tidak hanya menjadi tulisan tanpa perbuatan; tidak cuma sebagai penghias dinding di sebuah ruang makan siswa tanpa aplikasi dalam kehidupan nyata. Semoga SETIAP ANGGOTA TNI mengingat, memahami, dan menjalankan semua keharusannya tanpa kecuali. Jangan sampai terjadi, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Yah, semoga saja tentara-tentara yang belum menjadi sahabat dan panutan rakyat bisa secepatnya insyaf. Semoga, semoga.
___
1 Pendidikan Latihan Dasar Manajemen, pendidikan wajib bagi (C)PNS Dephan yang berdinas di TNI-AU. Untuk Golongan III, ini adalah angkatan pertama, sedangkan untuk Golongan II, ini adalah angkatan kedua.
2 Pembinaan Potensi Kedirgantaraan. Siswanya adalah anggota TNI-AU berpangkat letda hingga kapten.
3 Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal, salah satu lembaga pendidikan milik TNI-AD. Terletak di Maribaya, Lembang, Bandung.
-ulin-
No Comments »
Tulisan ini untuk 37 saudaraku terkasih: Mas Prana, Mas Laily, Mas Iskandar, Mas Kunto, De’ Citra, Mba Fitri, Kak Tiwi, Mba Afries, Kak Hetty, Cherry, Mba Devy, Bang Andi, De’Ayu, Mba Widya, Mba Ila, Mba Muti “mbok jamu”, Kak Dewi, Disi, Mba Laeli, Mba Farida, Susi, Ayu, Kang Indra, Pak Syukri, Tommy “cumi”, Mas Deni, Teti, Mas Trikus, Ito Divo, Teh Yuli, Terry, Theo, Wawa, Haris, Angger, Kencana, Ayuni.
Semua ini bermula pada 8 Oktober 2008, ketika para peserta Diklatprajab Dephan1 melangkahkan kaki memasuki gerbang Salemba Raya 14.
I’m lucky!2
Sekali lagi dalam hidup, saya diperbolehkan bertemu pribadi-pribadi yang unik dan istimewa. Pada awalnya kami adalah orang asing satu sama lain; Tanpa ikatan apapun kecuali persamaan untuk mencari sebuah pengakuan bahwa kami pantas menanggalkan huruf C pada akronim CPNS—status pekerjaan yang melekat pada diri kami saat ini, 38 peserta Diklatprajab yang kemudian dipersatukan menjadi sebuah kelompok bernama Kelas C.
Kelas C adalah adalah sekumpulan anak badung. Kelas C terkenal setelah banyak pelanggaran dan kenakalan yang dilakukan anggota-anggotanya, baik di di luar maupun di dalam bilik belajar kami, ruang Suprapto. Kelas C jadi punya nama karena personilnya yang sering ribut dan rusuh saat berada di antara kelas-kelas lain. Salah satu widyaiswara3 bahkan pernah mengatakan ini di kelas tetangga, ”Kalian jangan seperti kelas C ya, yang suka membantah”. Yah, itulah image yang berkembang tentang kelas C. Tapi kami tak ambil pusing, dan tidak pula jadi terganggu dengan komentar itu. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Mereka-mereka ‘kan hanya melihat dari kacamata mereka sendiri, tanpa mengenal kami lebih dekat (pembelaan diri, hehehehe).
Di mata saya, anggota Kelas C adalah orang-orang yang optimis. Cerdas dan kritis. Kreatif. Ceria, humoris, dan senang tertawa. Kami lalui hari-hari kami dengan canda, meski pernah pula kami mengalami konflik yang akhirnya dapat juga terselesaikan. Kami juga pernah bersatu untuk menyukseskan pertunjukan kesenian yang gagasannya menyentil nilai kemanusiaan dan nasionalisme. Bukti bahwa anggota kelas C bukan tukang bikin ulah, namun pintar serta cinta bangsa ini. Kami punya orang-orang belakang layar yang jempolan, sekaligus penampil-penampil yang hebat. Mau yang centil? Lucu? Gemulai? Ada di kelas kami. Tetapi tidak selamanya hal-hal kreatif yang kami lakukan mendapat tanggapan positif. Sebaliknya, kelas kami sempat mendapat predikat eksklusif, tidak mau bergabung, dan kurang kompak dengan peserta Diklatprajab dari kelas-kelas lain, hanya karena kami memiliki sesuatu yang berbeda. Tetapi, sekali lagi, anjing menggonggong kafilah berlalu. Bagi saya kelas C adalah kelas yang solid. Bukan karena tiadanya perbedaan atau masalah, namun karena kemampuan bertoleransi terhadap perbedaan yang ada dan kemauan untuk mencari jalan keluar bagi setiap masalah yang hadir.
Satu hari sebelum penutupan, 30 Oktober 2008, makan-makan malam hari di Suprapto.
Waktu perpisahan adalah saat-saat yang paling berkesan. Alunan lagu Kemesraan serta jabat tangan dan peluk di antara kami dapat membuat air mata menetes haru. Mungkin terlalu dini jika kami menamakan diri sebagai sahabat, tetapi kenyataannya 24 hari bersama sudah menimbulkan rasa saling memiliki. Saya terharu ketika Ayuni mengatakan, ”Aku sayang kalian”. Saya takjub bahwa ternyata Tommy bisa begitu sentimentil hingga menuliskan kalimat-kalimat ajaib yang mengetuk kesadaran saya bahwa kami adalah saudara. Saya merasakan betapa bosannya Ito Divo yang sempat berdiam di kamar karena demam, karena kehilangan satu hari hahahihi bersama pribadi-pribadi ajaib ini. Saya tidak menyangka bahwa Cherry, salah satu orang paling ceria yang pernah saya kenal, bisa berkaca-kaca sampai menitikkan air mata. Ternyata rasa jenuh, kantuk yang menyerang ketika widyaiswara menceritakan materinya, marah-marah kecil antara kami, dan berbagai komentar negatif yang kami terima, tidak ada apa-apanya dibandingkan semangat kami untuk menjadi teman sejati.
I Thank God that I met u, guys. You’re all great!
__
1 Pendidikan dan Latihan Pra Jabatan Departemen Pertahanan. Diklatprajab merupakan pendidikan yang harus ditempuh CPNS sebagai syarat menjadi PNS penuh. Selain CPNS Dephan, Diklatprajab kali ini juga diikuti oleh CPNS dari Mahkamah Konstitusi (MK) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Jumlah peserta seluruhnya adalah 185 orang, yang terbagi menjadi lima kelas: A, B,C,D, dan E. Saya adalah anggota kelas C.
2 Lucky sebenarya bukan kata favorit saya. Tapi saya belum menemukan kata lain yang bisa mewakili rasa syukur karena bisa berada di antara 37 anggota kelas C lainnya.
3 tenaga pengajar
-ulin-
No Comments »
Hari ini ada banyak sekali berita tentang arus balik dan kecelakan lalu-lintas yang menyertainya. Ratusan jiwa berpisah dari raganya di jalan raya, atau dalam perjalanan ke rumah sakit agar nyawa-nyawa mereka tetap bersatu dengan masing-masing tubuhnya. Siapa sangka, bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir…Kebahagiaan Idul Fitri tahun ini adalah yang penghabisan…Kalau lebaran tahun ini adalah saatnya berpisah dari sanak saudara dan kerabat di kampung halaman untuk selamanya, padahal sangat besar kemungkinannya mereka saling mengucapakan sampai ketemu tahun depan ya, ketika saling berpisah…
Satu berita yang membuatku miris dan ikut terluka adalah kabar kecelakaan dari The Island of Gods, ketika sebuah keluarga kembali ke Denpasar dari perjalanan mudiknya di Banyuwangi. Ia hanya bocah laki-laki berusia 10 tahun, kanak-kanak yang masih sangat sangat membutuhkan kehadiran ayah bundanya, ketika alam memaksanya untuk menyaksikan kedua orangtua berikut calon adiknya direnggut maut, saat motor yang membawa mereka tergilas bus dari arah belakang. Tabrak lari.
Dia kehilangan pelindungnya dalam satu kedipan. Dua pelindungnya sekaligus. Dia kehilangan orang yang bisa ditanyai atau diajak berbagi tentang mimpi basah pertamanya. Dia kehilangan orang yang bisa memberi pendapat tentang perempuan yang ditaksir atau yang ingin dikencaninya. Dia kehilangan orang yang biasa menyiapkan sarapan pagi untuknya. Dia kehilangan orang yang bisa memeluknya sambil berkata ibu sayang kamu, bapak sayang kamu. Bahkan dia kehilangan calon adik yang mungkin telah sangat dinantinya…
Seharian ini aku memikirkannya. Bagaimana nasibnya sekarang dan esok dan esoknya lagi? Bagaimana dia akan meniti hidupnya kemudian? Betapa mudanya dia, harus menanggung beban seberat ini…Bagaimana kalau bocah itu aku? Aku telah merasakan kehilangan salah satu orangtuaku, dengan cara yang mendadak pula, meski tak di depan mata kepalaku. Aku telah merasakan hidup yang pasang surut secara emosional setelah itu. Tapi tiba-tiba semua pedih dan sedihku jadi tak berarti dibanding dengan yang sedang dialami manusia kecil ini. Aku tahu aku berhak sedih karena kehilangan orang tercinta, tapi hari ini aku merasa tidak pantas memiliki perasaan itu…
(061008)
-ulin-
2 Comments »
Kalo loe tanya nyokap gue, pasti jawabannya nggak jauh dari: No way! Will never. Jangan sampe deh, cewek nembak duluan. Cewek nembak duluan itu identik dengan….agresif. kegatelan. gatau malu. yah…kind like that lah. Cewek kan kodratnya dikejar, dan menunggu. Kalo cowok, mengejar, dan mencari. Kodrat? Apa iya? Setau gue, kodratnya cewek itu mengandung, melahirkan. Kalau masalah cewek musti nunggu sih, itu bukan kodrat. Itu budaya. Dan budaya kan hasil karya manusia. Beda sama kodrat. Manusia mana ada yang bisa nyiptain kodrat?
(sebuah percakapan dengan diri sendiri)
Perihal tembak menembak adalah soal yang akan abadi dibicarakan, sepanjang asal muasal terjadinya perilaku ini juga menjadi hal yang tak akan pernah selesai diulas. Cinta. Cinta dengan segala turunannya dan segala rupa perwujudannya. Cinta monyet, cinta buta, cinta mati, dan cinta-cinta yang lain. Cinta yang diungkap dengan semua cara dan kata yang bisa dibayangkan.
Ulin, aku cinta kamu.
Lin, aku sayang kamu.
Ulin…mau nggak, jadi….mmmm….pacarku?
Aku suka sama kamu Lin. Jangan marah ya…
Dan sejenisnya, dan seterusnya.
Sebagai perempuan yang menurut budaya berperan sebagai “penunggu”, saya hampir-hampir tidak pernah tahu bagaimana rasanya “nembak”. Budaya gengsi dong secara tidak sadar juga sudah merasuk menjadi bagian dari hal-hal yang boleh-tak boleh-dilakukan dalam diri saya. Jadi, saya pun hampir tidak pernah merasakan diterima atau ditolak cowok secara terbuka–kalau saja pada beberapa saat yang lampau saya tidak memberanikan diri menjadi oknum pelaku penembakan.
Rumit kalau saya ceritakan dari awal. Sederhananya, saya bilang pada seorang pria bahwa saya sayang dia dan bahwa dirinya sangat berarti untuk saya. Tahu apa yang saya rasakan setelah ucapan mahaberat itu tersampaikan? LEGALUARBIASA. Plong. Hiperbolanya, seakan ada batu dengan berat berton-ton berhasil terangkat dengan sukses. Saya menginginkan dia, walaupun tidak berani berharap terlalu besar bahwa dia akan membalas dengan kata dan rasa yang sama. Yah, hitung-hitung bentuk persiapan kalau-kalau pada akhirnya saya ditolak. Dan, memang iya, saya ditolak. Si pria tadi akhirnya menghilang dari hari-hari saya. Oooo…begini tho rasanya….Menyesalkah saya pernah melakukan ini semua? Tidak. Rasa legaluarbiasa sudah meniadakan semua emosi negatif yang mungkin muncul. If you love someone you say it, you say it right then, out loud…Or the moment just passes you by (My Best Friend’s Wedding).
Lalu, apakah saya termasuk perempuan agresif? Tidak tahu malu? Cewek gatel? Tidak. Tidak. Tidak. Seringkali pendapat-pendapat yang bernada mencibir seperti itu dilatarbelakangi oleh bias gender semata.
Pembelaan saya.
Pembelaan Pertama.
- Saya tidak agresif, karena saya tidak memaksakan apapun padanya. Saya hanya minta didengar. Dan mintanya baik-baik kok. Saya asertif, bukan agresif. Ada beda yang jelas antara dua hal ini.
- Saya cukup mampu membedakan mana tindakan memalukan dan mana yang bukan. Apakah mengungkapkan perasaan cinta adalah hal yang sedemikian tercelanya sehingga masuk kategori perilaku memalukan?
- Saya tidak gatel, karena saya hanya mengatakan itu pada pria yang saya sayangi–bukan pada setiap laki-laki yang lewat.
Pembelaan Kedua.
Rasa adalah sesuatu yang manusiawi—yang terberi dan menjadi milik setiap manusia—tanpa peduli apa jenis kelaminnya. Bahkan kadar rasa yang dimiliki perempuan jauh lebih besar daripada yang dipunyai laki-laki. Jadi, mengapa perempuan yang punya persediaan rasa lebih besar justru harus membendung lebih banyak?
Kita tak pernah kalah karena mencintai seseorang. Kita selalu kalah karena tak berterus terang.
(Barbara DeAngelis)
(ditulis sambil mendengarkan Semua Yang Ada, D’Cinnamons)
-ulin-
4 Comments »
<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>
Satu.
L-1 : Kalau ternyata pasanganmu dulu pernah jadi pemakai (narkoba, -ulin-), gimana?
P : Gapapa. Ga masalah.
L-1 : Kamu masih mau terima?
J : Iya, mau. Kan dulu, sekarang udah enggak, kan.
L-1 : Bagus.
Dua.
L-2 : Gimana reaksimu kalau dalam waktu dekat kamu mau nikah, yah, sebulan lagi
lah…pasangan kamu tiba-tiba ngaku, dia udah ga perjaka lagi? Kamu masih mau nikah
sama dia?
P : Wah, buatku, virginity itu penting. Aku jaga diriku, aku juga mau pasanganku sama kayak
aku. Prinsip equality aja. Kalo situasinya kayak gitu…gimana ya…batal? Nggak tau deh.
Kalo kamu emang gimana?
L-2 : Kalau aku, terima aja. Maafin aja. Setiap orang kan punya masa lalu yang mungkin aja
belum tentu baik. Tiap orang bisa khilaf. Yang penting, sekarang dan ke depannya.
Tiga.
L-3 : Kalau dulu pasanganmu ternyata homo, tapi sekarang udah nggak lagi, udah normal, udah
suka perempuan, kamu mau nggak?
P : Gapapa. Mau aja. Kan itu dulu, sekarang udah nggak. Yang penting adalah sekarang dan
ke depan, daripada mikirin masa lalu yang nggak bisa diubah.
L-3 : Trus kalau dia emang udah suka perempuan tapi ternyata masih tetep suka laki-laki juga,
gimana?
P : Nggak mau. Dia suka sama cowok, buatku sama aja dengan dia suka sama cewek. Aku
tetep aja diduain kan? Kesetiaan itu penting.
L-3 : (mengangguk-angguk) Iya, bener.
[Tanya jawab antara tiga teman, ketiganya laki-laki (L-1, L-2, L-3) dengan saya (P), di tiga kesempatan berbeda]
Pertanyaan kedua adalah isu yang sering saya munculkan pada para pria. Tidak menyangka, ada juga teman lelaki yang tahu-tahu menanyakan ini. Dan tidak menyangka pula, kalau dia punya jawaban demikian – sangat berbeda dari pendapat sebagian besar kaumnya yang pernah kebagian pertanyaan serupa dari saya. Pandangan yang kemudian membuat saya berpikir ulang tentang nilai yang selama ini saya pegang, yang kemudian memunculkan tanya pada diri: kalau nanti ternyata my husband wannabe udah ga perjaka1, apa ya aku masih mau nerima?2 Kalau aku bisa nerima laki-laki yang dulunya pemakai atau gay, lantas apa yang membuatku nggak bisa maafin cowok yang nggak perjaka lagi? Yang penting kan saat ini dan seterusnya dia sadar bahwa yang pernah dia lakukan itu salah, dan udah memilih untuk nggak kayak gitu lagi (lain cerita kalau dia ternyata menikmatinya dan jadi kecanduan). Bukankah menjalani masa kini dan merancang masa depan jauh lebih bermanfaat daripada surut ke masa lalu yang sudah baku? Waduh, jangan-jangan, nilaiku tentang ini udah mulai longgar nih, jadi lebih sekuler.
“Kalau kayak gitu, urusannya udah antara dia (pelaku, -ulin-) dengan Allah. Dulu sih aku juga ga bisa terima. Tapi sekarang yang dilihat adalah akhlaknya. Jadi ya gapapa kalo ternyata dia udah ga perawan. Terima aja. Yang penting saat ini akhlaknya baik. Ke depannya mudah-mudahan juga akan baik. Nabi menganjurkan agar mendapatkan yang masih suci, karena lebih bersih dan segar. Dalil Al-Quran mengatakan pezina dengan pezina, yang beriman dengan yang beriman. Namun dalil tersebut tidak mengatakan hukumnya wajib. Nilai yang dimaksud bukanlah pergeseran, tapi pemahaman yang berubah setelah mendapatkan masukan baru dari luar”. Bukan pergeseran nilai, tapi perubahan cara pandang. Hmm..Ini jawaban menarik lainnya yang saya dapat dari seorang teman, ketika mengutarakan kegundahan mengenai kemungkinan adanya pergeseran nilai dalam diri ini.
Pertanyaan ketiga, seolah merupakan perantara yang mengantarkan saya pada pandangan mengenai kesetiaan–fidelity. Pun, hal ini menimbulkan tanya: kalau nanti suamiku selingkuh, aku bisa maafin nggak ya? Trus, cerai atau lanjut? Wah…nggak tau deh. Memaafkan, mungkin iya, terlebih karena kemampuan memaafkan punya pengaruh positif pada kesehatan mental. Tapi meneruskan perkawinan? Eits…nanti dulu. Pasti banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kayaknya bakal bikin perjanjian pranikah aja deh kayak Cindy Fatika sama Tengku Firmansyah, which is perkawinan selesai kalau salah satu pihak selingkuh, dan anak ikut pihak yang tidak selingkuh.
Dalam iman Islam, kesetiaan memiliki posisi istimewa, dimana kesalahan besar yang tidak dimaafkan Allah adalah syirik – kasus ketidaksetiaan. Omong-omong saya dengan teman-teman perempuan seringkali menukil jenis kesalahan ini untuk menggugat pria-pria yang suka tebar pesona dan kadar kesetiaannya diragukan. Allah aja nggak mau diduain, apalagi kita yang cuman manusia!
Terlepas dari perubahan cara pandang atau pertimbangan nilai yang sedang saya alami sebagai reaksi dari pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas, sebuah harapan dari Alcoholic Anonymous berikut ini semoga bisa mengingatkan saya untuk selalu melihat segala sesuatu melalui kejernihan mata batin:
Tuhan, beri saya keberanian untuk mengubah apa yang dapat dan harus diubah, ketenangan untuk menerima apa yang tidak dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.
(diperoleh dari salah satu seri Chicken Soup for The Soul)
_______
1Tidak perjaka yang dimaksud di sini (juga tidak perawan) merupakan kondisi tidal virgin sebelum terjadinya pernikahan. Dalam hal ini, berarti mengeksklusikan duda or janda.
2Saya ingat, pertanyaan tentang keperjakaan juga pernah dilontarkan satu teman laki-laki saya yang lain, Agustus lalu. Jawaban saya ketika itu masih sama dengan jawaban saya dalam percakapan di atas. Equality.
-ulin-
3 Comments »
|